MOCAF (modified cassava flour) sudah lama dikembangkan oleh Dr. Subagyo
dari UNEJ. Salut atas usaha dan keberhasilannya.
Di Yogyakarta, khususnya di Wates Kulon Progo, dikenal makanan tradisional yang dibuat dengan tahap perendaman cip ubi kayu sampai beberapa hari, disebut growol. Di Afrika banyak jenis makanan dari rajangan cassava hasil perendaman beberapa hari. Perendaman lama dan menyisakan limbah cair yang asam dan berbau.
Yang dikembangkan di Brazil ialah sour cassava starch (bukan flour). Perendaman dilakukan pada pati ubi kayu(bukan cip ubi kayu). Pati direndam beberapa lama kemudian dikeringkan dengan sinar matahari.
Ditemukan bakteri yang berperan utama ialah Lactobacillus manihotivorans dan L. plantarum. Sinar matahari yang paling berperan ialan sinar UV. Perkembangan berikut, sengaja pati disinari dengan sinar UV, berhasil mengembang besar pada pemanggangan, namun waktunya 7-9 jam.
Ternyata akibat penyinaran UV berakibat seperti oksidasi. Maka Demiate & Co. di Brazil mengembangkan cara oksidasi yang hanya memerlukan 45 menit untuk mendapatkan sour cassava starch. Pengembangannya dinyatakan dalam specific volume 18 ml/mg dibanding sour cassava starch komersial 10 ml/mg.
Cara oksidasi masih bisa dikembangkan untuk mengurangi lama reaksi dan secara umum meningkatkan efisiensi dan mengurangi limbah.
Pemerintah mencabut persyaratan fortifikasi terigu. Hal yang masuk akal dari aspek ekonomi. Penghapusan wajib fortifikasi tentu saja mengurangi biaya tambahan fortifikasi tersebut. Sesungguhnya sebagian terbesar mineral dan vitamin yang ditambahkan tersebut banyak terdapat pada bekatul yang disia-siakan atau kurang termanfaatkan. Kalau dihitung edible rice bran hanya 4% dari setiap kg beras. Penduduk Indonesia saat ini 250 juta yang mengkonsumsi 120 kg beras per kepala. Anggap saja beras tersedia
dalam negeri 25 juta ton, maka edible rice bran 1 juta ton/tahun.
Negara-negara maju sudah memanfaatkan dengan teknologi sederhana. Mengapa kita tidak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar